Dari Kamar, Terdengar Alunan Ayat Suci tentang Siksa Neraka

oleh

Oleh: Yuli Setyo Budi, Surabaya

Setelah dua kali datang bersama Wawan, Hery memberanikan diri minta nomor HP Rini dan izin menghubunginya. Gayung bersambut. Rini sangat welcome. Inilah kelanjutan kisah Hery, yang disajikan dengan gaya bertutur.

Sejarah kehidupan Rini, terus terang, membuat hatiku trenyuh. Aku melihat dia sebagai sosok perempuan mandiri, berpendirian kuat, dan tabah menghadapi segala tantangan.

Jujur saja aku terpikat. Tidak hanya oleh hal-hal tadi, tetapi juga oleh sikapnya terhadap agama. Suatu saat aku sempat membuka-buka HP-nya yang tertinggal di meja ruang VIP. Saat itu dia ke kamar kecil.

Ternyata 90 persen isinya hal-hal yang berbau agama. Ada kumpulan tausiyah. Ada kumpulan lagu-lagu ruhani Islam. Ada kumpulan kata mutiara Islam. Ada kumpulan sari tilawah. Dll. Dsb. Dst.

Waktu itu tampaknya dia baru membuka tausiyah Ustaz Adi Hidayat bertajuk Mau Hati Tenang?! NontonVideo Ini. Kesan ini melekat kuat di hati. Tapi, itu belum seberapa.

Sebelumnya ada kejadian yang menimbulkan tanda tanya besar. Sepulang dari diskotek saat kali pertama bertemu Rini. Waktu itu kami pulang menjelang diskotek tutup.

Di tempat parkir, mobil kami mogok. Terpaksa kami mencoba mengutak-atiknya. Kebetuan aku dulu lulusan SMK jurusan mesin, jadi sedikit-sedikit mengerti soal mesin mobil.

Sekitar setengah jam berkutat, satu per satu karyawan diskotek keluar. Saat itu aku melihat sosok perempuan berjilbab di antara mereka. Aneh. Siapa orang bener yang keluyuran di tempat seperti ini?

Ketika dia lewat dekat kami untuk menuju parkir motor, keterkejutanku makin menjadi. Wajahnya mirip Rini. Tapi benarkah? Kusapa untuk memastikan, tapi dia terburu menjauh. Suaraku ditelan gemuruh mesin-mesin kendaraan.

Kesempatan untuk memastikan bahwa perempuan itu Rini baru ada ketika kami ketemu kali kedua. Juga di diskotek itu. Ternyata benar. Rini membenarkan bahwa dirinya memang memakai jilbab. Namun terpaksa buka-tutup, karena perusahaan tempatnya bekerja melarang memakai pakaian seperti itu waktu kerja. Nggak lucu, purel kok berjilbab.

“Terpaksa,” aku Rini.

Dua peristiwa tadi benar-benar mengejutkan. Keterpikatan akhirnya membawaku melangkah ke kos-kosan Rini di Kampung Malang. Aku berbekal alamat yang kuperoleh dari Angel. Tapi, dia me-wanti-wanti agar aku tidak mengaku mendapat alamat ini dari dia.

Rini sendiri tidak pernah mau menunjukkan alamat kosnya. Dia hanya bersedia memberikan nomor HP. Waktu itu sore, menjelang Ashar. Tidak sulit menemukan alamatnya.

Sebuah rumah sederhana. Tampaknya Rini memilih kos di rumah keluarga. Bukan tempat  kos yang dikelola profesional dan dibangun dengan kamar berderet-deret, bahkan bertingkat.

Seorang perempuan sepuh menyambutku. Usianya sekitar 70-80. “Madosi sinten?” tanyanya. Ketika kusebutkan nama, dia memintaku masuk rumah dan duduk di ruang tamu ukuran 3 x 3 meter. “Priyantunipun tesih ngaji,” katanya.

Samar-samar kudengar lantunan ayat suci, “Kullamaa aradu ay yakhruju minha min gammin u’idu fiha wa zuqu azabal hariqi.” Kalau tidak salah ini adalah surat Al Hajj, tapi aku lupa ayat berapa. Kalau tidak salah berbicara soal siksa neraka. (bersambung)