Usai Akad Nikah di Masjid Depan Rumah, Terpeleset dan Jatuh

oleh

Oleh: Yuli Setyo Budi, Surabaya

Sepuluh menit setelah alunan surat Al Hajj selesai, Rini mencul dari balik korden pembatas ruang tengah dengan ruang tamu. Kami pun saling mengucapkan salam, menunduk, dan menaruh tangan dalam posisi terkatup di dada. Inilah kelanjutan kisah Hery, yang disajikan dengan gaya bertutur.

Wajah polos Rini tanpa polesan make up malah jauh lebih cantik dari sebelum-sebelumnya. Aku amat kaget. Jilbab panjang yang membungkus lebih dari separuh tubuh makin menjadikan perempuan ini tampak anggun.

Rini lebih mengesankan sebagai guru madrasah atau penghuni pondok pesantren ketimbang purel diskotek. Kami pun ngobrol banyak hal. Tapi, pada intinya aku ingin menunjukkan niatan hati untuk lebih dekat dengannya.

Entah aku yang merasa GR (gede rumongso) atau terlalu berharap, aku merasakan Rini juga menunjukkan ketertarikan kepadaku. Singkat cerita, kami pun makin dekat. Rini bahkan sudah menuruti sarankanku untuk berhenti dari pekerjaannya.

“Rini tidak menyesal dekat dengan duda tua seperti aku?” tanyaku suatu saat di tempat kosnya.

“Pak Hery tidak menyesal dekat dengan perempuan beranak satu yang tidak jelas siapa ayahnya?”

“Biarkan aku yang menjadi ayah anakmu,” kataku.

Kami akhirnya bisa saling menerima segala kekurangan dan kelebihan masing-masing. Pendekatan singkat tidak lebih dari sebulan itu akhirnya sampai pada titik finish. Aku melamar Rini. Seminggu kemudian pernikahan sederhana kami gelar di masjid depan rumah Rini di Kediri.

Berakhir happy ending?

Belum. Turun dari masjid seusai akad nikah, aku terpeleset. Jatuh, tapi tidak terlalu keras. Walau begitu, aku merasakan pantatku nyeri dan kebas. Aku yang spontan berdiri dan bepegangan lengan seorang teman tiba-tiba melorot. Seperti tidak ada tenaga. Sama sekali.

Aku segera dilarikan ke rumah sakit dan dirawat inap. Hingga kini. Kisah ini pun kutulis di atas tempat tidur. “Ada kemungkinan Bapak menderita kelumpuhan,” kata dokter yang merawatku.

“Ada juga kemungkinan sembuh?”

“Ada tapi sangat kecil.”

Kini aku menunggu terwujudnya kemungkinan yang amat kecil itu. Tidak mengharapkan peran medis, tapi mengandalkan salat dan sabar. Aku juga mohon dukungan doa dari para pembaca. (habis)