Jatuh Hati Pada Pandangan Pertama Episode Kedua

oleh

Oleh: Yuli Setyo Budi, Surabaya

Berpuluh tahun mengonsumsi menu santap malam yang itu-itu-itu-itu saja, gairah karyawan perbankan yang tinggal di Wiyung, sebut saja Reihan (44), suatu ketika sampai pada titik jenuh. Bersamaan dengan itu, Reihan menemukan menu baru saat mengikuti acara dinas di Batam.

Menu baru tersebut disuguhkan teman yang kantor cabangnya menjadi tuan rumah lokakarya nasional di Batam. Usianya tidak terlalu muda, sekitar 30-an, namun ubo rampe-nya bisa membangunkan gairah yang sudah lama dikubur di liang lahat.

Namanya sebut saja Susi (30). Dia janda muda yang belum genap setahun dicerai suami yang tepergok selingkuh. Dia bekerja di bagian resepsionis kantor cabang di Batam.

Malam itu setelah seharian berkutat dengan aneka diskusi program-program, para peserta dijamu makan malam di restoran sebuah hotel. Tak hanya makan-minum, mereka juga dihibur beberapa artis ibu kota.

Kebetulan Reihan dan Susi mendapat tempat duduk semeja. Hobi traveling yang sama menjadikan mereka cepat akrab. Bahkan sampai restoran sudah sepi, diskusi mereka masih tuntas.

“Bisa kita lanjutkan diskusi di kamar?” tawar Reihan, yang merasakan tawaran itu keluar begitu saja dari bibir tanpa disadari. Kisah tersebut diceritakan Reihan di sela menunggu panggilan sidang di Pengadilan Agama Surabaya, Jalan Ketintang Madya, beberapa waktu lalu.

Tak diduga, Susi yang sempat mengernyitkan alis lantas tersenyum dan berkata singkat, “Why not?”

“Di kamar kamu atau di kamar aku?” imbuh Susi, yang didengar Reihan sangat manja dan penuh ajakan. Sampai-sampai Reihan salah tingkah dan kehilangan kata-kata.

Laki-laki perlente ini mengaku terlena pada pandangan pertama. Ini adalah pengalaman kedua. Yang pertama terjadi sekitar 20 tahun lalu, saat dia bertemu istrinya, sebut saja Indah (42), yang kini menjabat manajer bank swasta di kawasan Surabaya Selatan.

Dan tidak bertepuk sebelah tangan, ternyata Susi pun demikian. Wanita berambut hitam sebahu ini terkesan dengan gaya pendekatan Reihan yang romantis, seperti remaja awal 2000-an.

Dari sekadar bincang malam, mereka merasa menemukan ada sesuatu yang hilang pada diri mereka masing-masing dan kini ditemukan. “Kami memang di kamar, tapi kami tidak melanggar susila,” kata Reihan menjawab sorot mata Memorandum yang penuh tanda tanya.

Setelah pulang ke rumah masing-masing, Batam-Surabaya seperti tidak berjarak. Kalau bukan Reihan yang terbang ke Batam, Susilah yang terbang ke Surabaya. Pada tahap-tahap inilah pelanggaran itu terjadi.

Walau Susi sudah beranak satu, hubungan yang semakin intim tidak menjadi beban baginya karena dia memang sudah bercerai setelah suaminya ketahuan selingkuh. Namun bagi Reihan, hubungan simbiosis seksualisme ini menjadi masalah serius.

Sebab, dia masih berstatus suami seorang istri dan ayah tiga orang anak. Andai istrinya tahu hubungannya dengan Susi, tentu wanita lembut tersebut tidak akan rela Reihan berbagi cinta. Berbeda dengan Susi yang sejak awal mengetahui bahwa Reihan sudah beristri.

Reihan-Susi makin lengket, sampai sekitar lima bulan silam Susi mengajaknya berbicara serius. Empat mata. “Mas, aku hamil,” katanya membuka pembicaraan. (bersambung)