Di Sela Sidang Perceraian, Dikado Pocong Bersimbah Darah

oleh

Oleh: Yuli Setyo Budi, Surabaya

Kabar kehamilan Susi diterima Reihan dengan keterkejutan sejenak. Kemudian dia bersikap tenang, bahkan melemparkan senyum wibawa. “Aku akan bertanggung jawab,” katanya singkat.

Tapi, sesingkat itukah tanggapan istri Reihan? Ternyata jauh lebih singkat. Tanpa ba-bi-bu, Indah berbalik badan dan mengajak ketiga anaknya boyong ke rumah orang tuanya di Sidoarjo.

Sejak itu mereka tidak kembali. Berbagai upaya Reihan untuk membawa pulang istri dan anak-anaknya tidak pernah membuahkan hasil. Apalagi, pria botak tapi seksi itu tak menyurutkan permintaannya untuk berpoligami.

Reihan di jalan simpang. Di satu sisi dia menemukan kebahagiaan baru yang belum pernah dia rasakan bersama Indah, walau dia mencintai wanita itu; tapi di sisi lain, dia takut dianggap menelantarkan keluarga, terutama ketiga anaknya.

Yang tidak dia duga, akhir-akhir ini permusuhan tidak hanya datang dari Indah. Tiga anaknya turut melakukan perlawanan dengan tidak mau menemui Reihan. Ini merupakan pukulan berat.

Sementara itu, seiring dengan usia kehamilan yang semakin tua, Susi makin gencar mendorong Reihan untuk secepatnya menikah. Sampai-sampai, suatu saat Susi sengaja ke Surabaya untuk menjemut Reihan dan mengajaknya ke Batam.

Usia kehamilan yang memasuki bulan keempat mulai menimbulkan efek gendut pada perutnya. Tak mau menanggung malu, keluarga memutuskan pernikahan harus secepatnya dilaksanakan. Lebih cepat lebih baik. Karena itu, dia sengaja datang ke rumah Reihan. Selain diberi tahu rumahnya kosong lantaran istri dan anak-anaknya sudah lama ke orang tuanya, Susi ingin memberikan surprise.

Tapi bukannya bertemu Reihan, secara tidak sengaja Susi malah bertatap muka dengan Indah. Kebetulan hari itu Indah pulang untuk mengambil surat-surat kendaraan yang sudah waktunya dibayarkan pajaknya.

Pertemuan tak sengaja itu berkembang pesat menjadi pertempuran. Dari sekadar perang mulut menjadi saling jambak dan dorong. Bahkan saling pukul dan tendang. Dari sekadar ingin membela diri jadi saling menyerang dan mengalahkan.

Reihan yang sedang berada di kantor ditelepon tetangga-tetangganya, disuruh pulang. Pak RT dan Pak RW pun terpaksa turun tangan. Hasil perundingan, persoalan rumah tangga ini akan diselesaikan secara kekeluargaan. Semua lantas bubar.

“Nggak ada jalan lain. Aku pisah sama Indah,” kata Reihan sambil memegang tangan Susi yang mendampingi menunggu sidang cerainya vs Indah, medio pekan silam lalu.

“Semudah itu?” desak Memorandum.

“Masih dalam proses.”

“Lantas, kapan kalian kawin?” goda Memorandum.

“Sudah,” kata Reihan, lalu memandang wanita di sampingnya.

Tapi, diakui bahwa pernikahan yang mereka lakukan belum secara resmi. Masih siri. Menunggu hasil sidang memutuskan Reihan sebagai duda. Ada kejadian lucu tidak lama kemudian. Seorang lelaki paruh baya mendekat sambil memberikan bungkusan warna hitam ke Reihan. “Dari tiga anak muda di luaran sana,” kata lelaki tadi sambil mengarahkan telunjuk keluar.

Saat dibuka, isinya ternyata pocong ukuran telapak tangan bersimbah darah. Darah betulan. Ada tulisan, yang juga ditulis dengan darah di batang tubuh pocong tadi, “Selamat bersenang-senang, Pa.” (habis)