Ada Apa di Negara Ini…?

oleh

Oleh: Arief Sosiawan

Pemimpin Redaksi

Pemilihan Presiden Republik Indonesia 2019 sudah selesai. KPU (Komisi Pemilihan Umum) menetapkan pasangan Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin sebagai pemenang. Sesuai tahapan pemilihan, pasangan pemenang akan dilantik sebulan lagi. Tepatnya Oktober.

Menyaksikan perjalanan pemilihan presiden, banyak hal yang sudah terjadi. Manuver-manuver politik berharga mulai tingkat recehan hingga level miliaran rupiah terjadi. Semua memang terlihat samar-samar. Namun, aroma itu sangat terasa kental adanya.

Tidak hanya itu, bayang-bayang persoalan yang menyertai hiruk pikuk perhelatan akbar politik lima tahunan itu belum hilang dari ingatan. Salah satu contohnya (yang paling mengesankan dan menonjol) adalah meninggalnya ratusan orang petugas pemilu. Masalahnya, persoalan ini seolah hilang begitu saja bak ditelan bumi. Seakan sudah dianggap selesai. Tuntas. Dan, kelar.

Tapi, benarkah begitu? Jawabnya tentu bergantung dari masing-masing orang dalam memaknai dan memahami. Karena, ini politik. Dasar politik, tentu ya selalu samar-samar. Tidak merah, tidak putih. Tidak hijau, tidak biru. Tidak kuning, tidak ungu. Abu-abu.

Bayang-bayang lain adalah pembakaran Markas Kepolisian Sektor Tembelang, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. Saat kejadian, persoalan ini cukup memanaskan suhu pemilihan. Minimal di Jawa Timur.

Sempat mengopinikan Jawa Timur sebagai provinsi yang kurang siap menghadapi pemilihan umum. Tapi, tengara itu bisa ditepis Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur yang dengan sigap menyelesaikannya secara baik. Semua yang terlibat dalam persoalan ini mampu diseret dan dibawa ke meja hijau untuk diadili demi penegakan hukum yang adil dan beradab.

Persoalan lain yang tak kalah mengesankan adalah ribut-ribut menjelang keputusan KPU mengumumkan pemenang rivalitas calon presiden dan calon wakil presiden. Saat itu meletus kerusuhan yang diwarnai aksi tembakan hingga membawa korban kematian warga.

Dinamika politik memang begitu cepat. Tiba-tiba presiden terpilih Joko Widodo bertemu dengan rivalnya, Prabowo Subianto, di MRT (Moda Raya Terpadu) Jakarta. Atau bahasa Inggrisnya, Jakarta Mass Rapid Transit.

Pertemuan ini pun memunculkan pro dan kontra. Yang pro merasa Bahagia, karena bertemunya dua sosok terbaik negara ini bisa menyatukan kembali perpecahan.

Yang kontra menilai pertemuan itu terkesan sebuah trik halus pengkhianatan. Dan, trik itu hingga kini masih dirasakan sebagian pendukung calon presiden yang kalah (Prabowo) sebagai langkah salah, kalau tujuan utama Prabowo maju sebagai calon presiden untuk menang.

Kini, setelah semua berlalu, tiba-tiba rakyat Indonesia dikagetkan tragedi Papua dan Papua Barat yang meminta merdeka. Apalagi, di tengah kesibukan Presiden Joko Widodo memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur.

Yang mengerti politik, pasti bisa memahami percaturan seperti ini. Tapi bagi orang awam, tidak boleh disalahkan jika ada yang berpikir hasil pemilihan presiden yang menyisakan seabrek persoalan itu terkait dengan tragedi Papua dan Papua Barat serta ide pemindahan ibu kota. Ada apa ya di negeri ini…? (*)