Mama Menerima Pinangan, Terpaksa Meninggalkan Kekasih

oleh

Oleh: Yuli Setyo Budi, Surabaya

Mendengar penuturan Mama saat memberi tahu tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini gelap, kepalaku pening. Aku berteriak sekencang-kencangnya menolak lamaran itu. Kusampaikan pula bahwa aku memiliki kekasih pujaan hati, Andi.

Mendengar pengakuanku, giliran Mama yang shock dan jatuh tersungkur ke lantai. Aku tidak menduga kalau sikapku yang egois itu akan membuat Mama shock. Aku baru tahu bahwa yang menyebabkan Mama shock adalah karena beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang tua Kak Erfan.

Hatiku sedih saat itu. Kurasakan dunia begitu kelabu. Aku seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersama kekasihku, Andi.

Dengan berat hati dan penuh kesedihan akhirnya kuputuskan menerima lamaran Kak Erfan untuk menjadi istrinya dan kujadikan malam terakhir perjumpaanku dengan Andi di rumah sebagai ajang meluapkan kesedihan.

Meski kami saling mencintai, tapi mau tidak mau Andi harus merelakan aku menikah dengan Kak Erfan. Apalagi, Andi sendiri mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga saat itu.

Pada 9 September 2005 akhirnya pernikahan digelar. Aku merasa pernikahan itu begitu menyesakkan dada. Air mata tumpah di malam resepsi pernikahan itu. Di tengah senyuman orang-orang yang hadir pada acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa. Karena harus melepaskan masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah kucintai.

Dan yang paling membuatku tidak bisa menahan air mata, mantan kekasihku, Andi, hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut. Ya Allah, mengapa semua ini harus terjadi padaku. Ya Allah… mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini?

Waktu terus berputar dan malam pun semakin merayap. Hingga usailah acara resepsi pernikahan kami. Satu per satu para undangan pamit pulang hingga sepilah rumah kami. Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak mendapati Kak Erfan di dalam.

Sebagai istri yang terpaksa menikah dengannya, maka aku tak peduli dan langsung membaringkan tubuh setelah sebelumnya menghapus make up pengantin dan melepaskan gaun pengantin. Aku bahkan tak mau tahu ke mana suamiku saat itu. Karena rasa capai dan diserang kantuk, aku akhirnya tertidur. Lelap.

Lepas tengah malam, tiba-tiba aku tersentak tatkala melihat ada sosok hitam yang berdiri di samping ranjang. Bersamaan dengan itu jam dinding berdentang. Dua kali. Dadaku berdegup kencang. Mata yang semula terpejam kubuka perlaha-lahan sambil kuucap doa. Doa apa saja yang aku tahu. (bersambung)