Pernah Berpacaran dengan Empat Pemuda Sekaligus, Wow…

oleh

Oleh: Yuli Setyo Budi, Surabaya

Ternyata Rina tidak hanya pacaran dengan Dani. Pada saat bersamaan, dia juga menjalin hubungan asmara dengan mantan teman SMP, tetangga di kampung, dan entah siapa lagi.

Yang jelas, dari berbagai sumber, ketika perpacaran dengan Dani, Rina juga dekat dengan sedikitnya empat pemuda. Ini, antara lain, dikatakan sahabat dekat Rina sewaktu SMA. “Dia juga kawanku,” kata Dani.

Dono kehilangan kata-kata. Wajahnya pucat. Tegang. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh. Abah, pakde-pakde, dan bude-bude serempak memandang ke  arah Dono.

Suasana mendadak senyap. Cukup lama. Tiba-tiba Abah memecah kesunyian itu dengan pertanyaan, “Kamu pernah berhubungan intim dengan gadis itu?”

Tidak ada jawaban, “Dani. Jawab,” imbuh Abah.

“Demi Allah tidak, Bah,” tutur Dani kalem. “Aku tidak mungkin melanggar larangan Abah dan agama,” imbuhnya.

“Dono?” lanjut Abah.

Dono tidak segera menjawab. Rupanya dia tenggelam dalam lamunan entah apa.

“Dono?” ulang Abah. Lebih keras.

Dono menoleh, “Tidak Abah. Tidak pernah.”

“Tidak pernah apa?”

“Tidak pernah pacaran sama dia.”

“Bukan itu pertanyaan Abah. Pernahkah kamu berhubungan intim dengan gadis itu?”

Dono seperti terkena setrum tegangan tinggi. Njenggirat. “Ya Allah. Demi Allah tidak pernah Abah.”

“Baiklah. Kalau begitu kalian tunggu di sini. Di masjid ini. Kebetulan Abah kenal dengan takmirnya. Nanti kupanggilkan beliau. Aku akan melanjutkan pergi ke rumah gadis tadi untuk mengurungkan lamaran. Dono, kamu tidak usah ikut. Aku hanya akan ke sana bersama pakde kalian,” instruksi Abah. Tidak ada yang berani membantah.

Tiba-tiba HP Dono berdering. Berkali-kali. Dono tidak peduli. Dani berinisiatif mengambil HP tadi. Menimang-nimangnya. “Dari Rina,” kata Dani kemudian. Lirih.

“Tidak usah diangkat,” perintah Abah.

Dono meneteskan air mata. Memorandum mengajak pemuda berbadan tinggi-tegap itu minggir. Duduk di badukan warga. Rombongan jalan sehat meninggalkan kami.

“Lantas?” tanya Memorandum.

“Lamaran diurungkan. Sampai sekarang kami tidak pernah bertemu.”

“Belum menemukan pengganti?” (habis)