Memorandum.co.id – Berita Peristiwa Kriminal Hari Ini
Sejuta Kisah Rumah Tangga

Akhir Perjalanan Mahasiswi Cantik Pemuja Ideologi Pancacinta (1)

Saat Membalik Papan Nama, Tangan si Cowok Menyenggol Dada

Ibarat Pancasila yang jadi dasar NKRI (negara kesatuan Republik Indonesia), Eli (samaran) meyakini Pancacinta sebagai ideologi mahligai rumah tangga. Lantas, apa saja cinta-cinta dalam Pancacinta?

Menurut Eli, yang pertama cinta ke kasih. Yang kedua cinta ke ketampanan. Yang ketiga cinta ke kekayaan. Yang keempat cinta ke kemapanan. Yang terakhir cinta ke keturunan.

“Yang penting yang pertama, cinta ke kasih,” ujar pengacara Eli menirukan ucapan kliennya saat bertemu Memorandum di warung sekitar Pengadilan Agama (PA) Surabaya, Jalan Ketintang Madya, beberapa waktu lalu.

Menurut pengacara tadi, sebut saja As, Eli mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu Agus, 10 tahun lalu.

“Waktu itu mereka sama-sama jadi maba (mahasiwa baru, red) perguruan tinggi swasta di Surabaya,” kata As.

baca juga :  Akhir Perjalanan Mahasiswi Cantik Pemuja Idiologi Pancacinta (4)

As pun bercerita, pada pembukaan ospek (orientasi studi dan pengenalan

kampus), Eli diminta mahasiswa senior menghafalkan Pancasila. Dengan PD gadis berambut sebahu itu bergegas maju.

Satu per satu sila Pancasila disuarakan lantang. Setelah itu Eli balik ke barisan maba. Tapi, mahasiswa senior tadi menyuruh Eli mengulanginya. Begitu terjadi sampai tiga kali.

Ada apa?

Semua bertanya. Sebelum disuruh mengulang yang keempat, Eli ditanya. “Kamu hafal Pancasila tidak?” tegas si mahasiswa senior.

“Siap. Hafal.”

“Bohong.Tiga kali kamu salah!”

Suasana tegang. “Ulangi!”

Eli sekali lagi menghafal satu per satu sila Pancasila. Sampai selesai. Ludes-des-des.

Lantas, apa yang terjadi? Dengan mata merah dan suara begetar mahasiswa senior maju mendekati Eli.

baca juga :  Cinta Suci yang Menembus Tabir Dunia Jin dan Dunia Manusia (1)

“Masih salah!”

Eli diam. Kecut. Wajahnya pucat. “Kamu tahu kesalahanmu?” bentak mahasiswa senior.

Eli diam.

Semakin grogi. Suasana semakin tegang. “Siapa yang tahu kesalahan dia?” tambah mahasiswa senior sambil menuding Eli.

Yang dituding mengkeret.Tidak ada yang menjawab. Suasana semakin tegang. Senyap menyergab.

“Saya hitung tiga kali. Kalau sampai hitungan ketiga belum ada yang menjawab, kalian terpaksa tidak diperbolehkan pulang. Harus menginap di sini sampai ada yang bisa menjawab. Tidak peduli harus menginap sampai berapa hari.

”Setelah menatap satu per satu mata maba, mahasiswa senior mulai berhitung, “Satu.” Para maba yang tadinya memandang mahasiswa senior, satu demi satu menunduk. Mengalihkan pandangan ke lantai.

“Dua.”

Ketegangan memuncak. “Ti…” sebelum mahasiswa senior melanjutkan mengucapkan kata “ga’, tiba-tiba ada maba cowok yang mengangkat tangan, “Siap. Saya tahu kesalahannya.”

baca juga :  Pintu Kamar Tak Terkunci, Disambut Amplop Warna Merah

“Nya siapa?”

“Dia.”

“Dia siapa?”

Maba cowok tadi lantas berlari ke depan Eli dan membalik kertas papan nama yang ditali kalung ke leher.

“Eli senior,” bacanya keras-keras.

Eli nyaris menampar cowok tadi, karena ketika membalik kertas papan nama, tangan si cowok menyenggol dadanya.

Krenyeng. Tapi, Eli tidak memiliki nyali untuk itu. Ia hanya sempat membaca namanya, Agus, dan bertekad akan membalasnya nanti. Suatu saat. (bersambung)

 

Penulis : Yuli Setyo Budi

Pembaca yang punya kisah menarik dan ingin berbagi pengalaman, silakan menghubungi nomor telepon / WA 0821 3124 22 88 . Bisa secara lisan maupun tulisan. Kisah juga bisa dikirim melalui email yulisb42@gmail.com. Terima kasih

baca juga

Tragedi Rumah Tangga di Singosari, Istri Digergaji, Suami Tewas Melompat dari Atap

Aziz Manna Memorandum

Teringat Kematian Mendadak Adik Ipar Jelang Nikah

Aris Setyoadji

Temukan Kotak Berisi Boneka Barbie Beraroma Anyir

Aris Setyoadji