Memorandum.co.id – Berita Peristiwa Kriminal Hari Ini
Sejuta Kisah Rumah Tangga

Cinta Terakhir Lelaki Paruh Baya Itu juga Cinta Pertamanya (1)

Dikenal sebagai Joker Waru, Jomblo Keren Wajah Seru

Teklek kecemplung kalen, tinimbang golek aluwung balen. Pepatah Jawa yang dulu sering dijadikan guyonan Zaenal (50, bukan nama sebenarnya) sekarang sedang dia lakoni.


Ceritanya panjang. Sangat panjang. Untuk sampai pada keadaan sekarang, Zaenal harus melewati pernikahan vs perempuan lain sebelum kembali bertemu vs cinta pertamanya.


Cinta pertama Zaenal ditambatkan kepada teman SMP-nya, sebut saja Karlina. Tapi, Zaenal terlambat mengungkapkan isi hatinya, terburu Karlina ditembak teman sebangkunya di SMA. Mereka jadian.

Hal serupa nyaris terjadi pada persahabatannya dengan Nindi dan Fadlul (sama-sama bukan nama sebenarnya), teman sesama aktivis partai. Namun, meski sempat berusaha agar tidak sampai terjadi seperti cinta pertamanya, Zaenal tetap harus menelan kekecewaan.

baca juga :  Cinta Terakhir Lelaki Paruh Baya Itu juga Cinta Pertamanya (2)

Menurut Zaenal, awalnya dia hanya bersahabat dengan Fadlul. “Sebenarnya saya tidak begitu sreg ikut-ikutan partai. Ribet, Saya dipaksa Fadlul,” kata Zaenal di kantor pengacara, sekitar Pengadilan Agama (PA) Surabaya, Jalan Ketintang Madya, beberapa waktu lalu.

Dia lantas menjelaskan bahwa ayah Fadlul seorang pengurus partai dan ketika itu menjadi wakil rakyat. Keren waktu itu mereka masih sama-sama jomblo. Joker waru. Jomblo keren wajah seru.

Beberapa waktu kemudian keduanya berkenalan dengan Nindi. Mereka cepat akrab. “Fadlul sering ngrasani Nindi. Katanya Nindi cantik tapi tidak sombong. Saya diam saja dan hanya mengiyakan apa yang dia katakan,” imbuh Zaenal.

Saking akrabnya, mereka sampai dijuluki Three Musketerers. Ke mana-mana selalu bersama. Sampai suatu saat saku baju Zaenal disisipi secarik kertas oleh Nindi. Ada tulisannya. Sangat singkat, “Aku sayang kamu. Ttd Nindi.”

baca juga :  Cinta Terakhir Lelaki Paruh Baya Itu juga Cinta Pertamanya (2)

Zaenal bingung. Tidak tahu harus bagaimana menyikapi tulisan tersebut, “Tidak bisa dipungkiri, sebenarnya saya sendiri menaruh hati kepada Nindi. Namun, rasanya tidak mungkin saya mengkhianati teman. Andai saya tidak tahu Fadlul naksir dia, pasti lebih mudah.”

Makin dipikirkan, Zaenal mengaku semakin bingung. Karena itu, diam-diam dia menjaga jarak. Dia mulai jarang mengikuti kegiatan partai, bahkan pada akhirnya sama sekali tidak pernah ikut.

Zaenal beralasan ingin fokus mencari kerja. “Dua bulan kemudian saya diterima di percetakan. Anak perusahaan media massa besar. Gajinya lumayan.”

Suatu hari Nindi datang ke tempat kerja Zaenal. Terus terang dia menyatakan sayang dan menagih jawaban Zaenal. Pemuda berkumis tipis ini kembali bingung. Tidak menyangka Nindi akan seterus terang itu.

baca juga :  Cinta Terakhir Lelaki Paruh Baya Itu juga Cinta Pertamanya (3- habis)

“Kamu nggak sayang ya sama aku?” tanya Nindi.

“Bukan begitu,” respons Zaenal spontan.

“Lalu apa?” kata Nindi.

Waktu itu Zaenal ingin menjelaskan bahwa sebenarnya Fadlul juga sayang kepada Nindi. Maka, sebaiknya jadian saja sama dia. Bukan dengan dirinya. Tapi, kalimat itu selalu gagal diucapkan. Hanya untup-untup di bibir. (bersambung)

 

Penulis : Yuli Setyo Budi

Pembaca yang punya kisah menarik dan ingin berbagi pengalaman, silakan menghubungi nomor telepon / WA 0821 3124 22 88 . Bisa secara lisan maupun tulisan. Kisah juga bisa dikirim melalui email yulisb42@gmail.com. Terima kasih

baca juga

Cinta Terakhir Lelaki Paruh Baya Itu juga Cinta Pertamanya (3- habis)

Agus Supriyadi

Cinta Terakhir Lelaki Paruh Baya Itu juga Cinta Pertamanya (2)

Agus Supriyadi