Memorandum.co.id – Berita Peristiwa Kriminal Hari Ini
Cerita Silat

Langit Hitam Majapahit – Wingin Anom

Di Kademangan Wringin Anom, Patraman adalah lelaki muda yang berhasil meraih tampuk pimpinan pasukan pengawal Majapahit selama bertugas di sana. Mempunyai kecakapan olah kanuragan dan bidang keprajuritan.  Walau telah mempunyai kedudukan tinggi di Kademangan Wringin Anom, namun dalam dirinya terbersit hasrat untuk meraih puncak kejayaan melebihi pencapaiannya sekarang ini.

Dalam banyak kesempatan, setiap kali ada kunjungan dari pejabat tinggi Majapahit, Patraman tidak menyembunyikan hasratnya. Ia sering bersaing dengan Ki Demang dalam berebut pengaruh agar dapat memasuki lingkaran dalam kotaraja maupun rakyat kademangan sendiri. Persaingan ini semakin mendekati puncak ketika orang-orang  di sekeliling Sri Jayanegara berpusar tajam saling bersaing. Agaknya persaingan untuk perebutan tahta kerajaan telah menjalar hingga ke sebuah kademangan di lembah Sungai Brantas.


Patraman memandang dirinya lebih tinggi, maka dari itu ia enggan untuk tunduk dalam perintah Ki Demang Wringin Anom. Sikap tinggi hati dan keinginan Patraman semakin memuncak setelah bertemu dengan seseorang dari kotaraja.

“Aku kemari untuk memberikan kepadamu sebuah tanggung jawab yang besar,” kata orang kotaraja itu suatu ketika, di barak prajurit yang terletak di sebelah selatan padukuhan induk.

“Aku belum melihat peningkatan kemampuan prajurit di kademangan ini. Apakah tidak akan membawa petaka jika aku memaksakan diri?” Patraman bertanya sambil memainkan belati kecil.

“Tidak!” kata orang itu. Ia diam sejenak, lalu melanjutkan, ”Yang aku maksudkan bukanlah satu peperangan. Tapi kawan kita menghendaki kau dapat membuat sebuah kemajuan yang akhirnya dapat membawa satu tingkat lebih tinggi.”

Patraman dengan alis mengerut pun bertanya, ”Kemajuan seperti apa yang Kakang maksudkan?”

“Aku mendengar Ki Demang mempunyai anak perempuan yang cantik. Dan aku kira kau pun tertarik pada anak perempuan itu.” Senyum orang kotaraja itu mengembang. Matanya mengerling ke arah Patraman yang masih mendengarkan dengan bibir terkatup rapat.

Baca juga :
  1. Bab 1 Menuju Kotaraja
  2. Bab 2 : Matahari Majapahit
  3. Bab 3 : Di Bawah Panji Majapahit
  4. Bab 4 : Gunung Semar
  5. Bab 5 : Tiga Orang

Lalu ia meneruskan, ”Patraman, untuk meraih suatu keberhasilan sudah barang tentu membutuhkan kerja keras dan pengorbanan. Tentu saja kau tahu yang aku maksudkan.” Ia berhenti sejenak. Dengan sepuluh jari yang terjalin di depan dadanya, ia mengatakan, ”Aku tahu kau adalah seorang lurah prajurit yang kuat dan itu adalah alasan bahwa engkau sebenarnya lebih pantas berada di tempat yang lebih tinggi.”

Orang dari kota raja itu bergeser lebih dekat. Dengan berbisik ia mengutarakan rencananya. Sesekali terlihat Patraman mengerutkan kening dan terkadang meminta untuk dijelaskan lebih mendalam.

“Baiklah, Kakang dapat kembali menemui kawan kita dengan kepala tegak. Aku akan mencari cara yang terbaik sehingga tujuan kita akan teraih,” berkata Patraman dengan suara yang cukup dalam. Orang dari kotaraja itu segera pergi setelah berbincang beberapa lama.

Siang itu, Patraman berbincang dengan Laksa Jaya. Berbagai hal telah mereka bincangkan hingga menyentuh maksud dan tujuan sebenarnya. Laksa Jaya yang mengetahui kecakapan Patraman seringkali hanya mengganggukkan kepala mendengar cita-cita Patraman. Ia memberi pengakuan bahwa berkat kecakapan dan kecerdikannya, secara cepat Patraman dapat meraih posisi penting dalam keprajuritan Majapahit.

Tetapi gelegak keinginan Patraman untuk dapat menjadi seorang pemimpin kademangan dan lebih tinggi lagi masih tersamar dalam kegiatan sehari-hari. Tentu saja Ki Demang mengetahui perihal ini namun ia tidak dapat berbuat banyak karena tiada orang yang bersedia menjadi saksi maupun bukti yang dapat diungkapkan. Bahkan sebaliknya, Patraman bisa saja menangkap Ki Demang dengan tuduhan pemberontakan. Sejumlah perangkap telah disiapkan apabila sewaktu-waktu Ki Demang menunjukkan keganjilan.

baca juga :  Langit Hitam Majapahit - Rencana Lain

Di barak prajurit, pada siang itu, seolah mengetahui isi hati Patraman, Laksa Jaya meminta Patraman segera memerintahkan dua orang pengawal yang berada dalam ruangan untuk keluar. Tak lupa pula mereka  memerintahkan penjaga agar melarang setiap orang untuk memasukinya.

“Laksa Jaya, tentu sangat baik bila engkau bersedia melakukan satu perbuatan untukku.”

Kawan dekat Patraman ini menyungging senyum. “Ya, apakah itu?”

“Menculik Arum Sari lalu membebaskannya. Sementara itu, ketika kau tengah melakukannya dan menyembunyikan gadis itu, aku akan bicara dengan Ki Demang.”

Bagai disambar halilintar, raut wajah Laksa Jaya seketika pucat pasi mendengar perkataan temannya itu. Dua bola matanya memandang heran pada Patraman. Ia tidak mempercayai yang telah didengarnya.

“Engkau suruh aku menculik Arum Sari lalu membebaskannya? Patraman, dadarkah kamu dengan perkataan itu? Engkau seorang prajurit!”

Sebenarnya Laksa Jaya sangat memahami watak temannya, tetapi menculik Arum Sari merupakan persoalan yang berbeda. Ki Demang dengan kekuasaannya dapat saja menuduh para prajurit gagal mengemban kewajiban, dan ia juga dapat meminta pergantian orang yang ada di barak prajurit. Namun Patraman telah menimbang kemungkinan itu ditambah kepercayaannya yang tinggi pada Pang Randu. Bahwa Pang Randu akan membereskan persoalan yang timbul akibat penculikan itu.

Baca juga :
  1. Bab 1 Menuju Kotaraja
  2. Bab 2 : Matahari Majapahit
  3. Bab 3 : Di Bawah Panji Majapahit
  4. Bab 4 : Gunung Semar
  5. Bab 5 : Tiga Orang

Kemudian sedikit beringsut untuk mengubah letak duduknya, Patraman menghadap dengan tatap mata yang tajam ke arah  Laksa Jaya. “Laksa Jaya. Apabila kau mengikuti dengan cermat segala perkembangan di kotaraja tentang keadaan Sri Jayanegara, maka kau dapat berpikir jika saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.”

“Maksudmu penculikan itu adalah pekerjaan yang bermanfaat? Lalu memancing di kolam keruh akan menjadi jalan keluar?”

“Mengapa tidak? Penculikan adlaah jalan lain untuk membuktikan kesungguhanku, Kawan. Bukankah engkau juga tahu bahwa aku mempunyai perasaan pada Arum Sari? Lantas bukankah juga dapat menjadi keuntungan bagiku jika ada sedikit kerusuhan. Kamu tahu?  Aku akan padamkan api dan tindakan itu akan membawa namaku menjulang di kotaraja. Setidaknya kehadiranku mulai dipertimbangkan oleh Sri Jayanegara dan Patih Arya Tadah. Dan bila itu terjadi, kademangan ini dapat menjadi pijakan menuju kotaraja.”

Rasa penasaran datang menancap pelan dalam hati Laksa Jaya. Meski ia pernah membahas kemungkinan Patraman untuk menjadi orang tertinggi di kademangan, namun menjadikan Wringin Anom sebagai langkah awal menuju kotaraja itu sangat mengejutkannya.

Tetapi tidak ada kata mustahil dalam bangsal pemikiran Patraman. Dalam rencananya, ia berpikir untuk menjadikan Kademangan Wringin Anom ini sebagai landasan berikutnya bagi perjuangan yang akan memberinya kehormatan serta kejayaan.

“Patraman, menculik bukanlah jalan terbaik untuk meraih perhatian dari seorang gadis. Engkau bukanlah seorang penyamun.” Desah panjang Laksa Jaya menyertai ucapannya.

Ia meneruskan kata-katanya, “Sebenarnya kita tidak perlu membicarakan masalah ini. Lagipula kita juga telah mengetahui bahwa rasa cinta itu tidak timbul begitu saja karena tunduknya para prajurit dan kekuasaanmu yang besar. Kalau Arum Sari menyukaimu, tanpa seorang prajurit pun Ia akan mengangguk pada dirimu.”

baca juga :  Langit Hitam Majapahit - Pemberontakan Senyap (5)

“Apakah arti cinta itu, Kawan? Setiap orang akan memberi jawaban yang berbeda tentang cinta. Kau sentuh ujungnya, lalu kau akan berkata cinta itu seperti ekor gajah. Orang lain mengatakan cinta itu lebar seperti telinga gajah. Dan sebenarnya cinta adalah omong kosong! Aku tak peduli dengan cinta!

“Aku tidak membutuhkan cinta Arum Sari!

“Sekalipun Arum Sari tak mencintaiku, namun dengan memilikinya, aku akan limpahi dirinya dengan cinta yang aku mengerti. Sudahlah, pikirkan rencana untukku. Karena aku yakin seseorang sepertimu yang bernama Laksa Jaya tidak akan mengecewakan seorang sahabatnya.” Patraman bangkit dan melangkah mendekati jendela. Terik matahari yang begitu panas makin membakar gejolaknya untuk bergegas melakukan setiap hal yang telah ia rencanakan.

“Ada satu keadaan yang perlu kamu ketahui, Teman. Kelemahan satu-satunya Ki Demang adalah keluarganya. Sedikit gangguan pada keluarganya akan merusak segala sesuatu yang telah dibangunnya. Dan aku akan mendapatkan keuntungan ketika ia sudah mengacaukan jalan hidupnya sendiri.” Ia membalikkan tubuh dan menghadap lurus Laksa Jaya yang duduk di depannya.

Baca juga :
  1. Bab 1 Menuju Kotaraja
  2. Bab 2 : Matahari Majapahit
  3. Bab 3 : Di Bawah Panji Majapahit
  4. Bab 4 : Gunung Semar
  5. Bab 5 : Tiga Orang

Kata Patraman kemudian, ”Ada dua keuntungan yang aku peroleh apabila rencana ini berhasil. Hanya saja aku tidak dapat berpikir jernih untuk pelaksanaan rencana ini.”

“Seperti yang engkau inginkan bahwa engkau berencana menculik lalu membebaskan Arum Sari. Sementara itu dapatkah engkau katakan padaku seperti apa gerak yang kau tempuh?” tanya Laksa Jaya dengan nada datar.

“Belum. Rencana itu belumlah mantap. Apakah kau mempunyai usulan?” Patraman balik bertanya .

“Sebenarnya banyak perhitungan yang harus dibuat. Karena engkau akan menggunakan tangan orang lain untuk menculik Arum Sari. Namun keadaan akan menjadi buruk bagimu jika mereka tertangkap dan membocorkan rahasia,” jawab Laksa Jaya. Ia telah menyerah. Laksa Jaya tidak melihat pentingya berbantahan mengenai Arum Sari atau cinta. Itu sama saja, sama seperti bicara dengan batu hitam, pikir Laksa Jaya.

“Jika begitu,” kata Patraman melanjutkan sambil mengelus dagunya, ”agar dua pekerjaan dapat terlampaui, Ki Cendhala Geni mungkin dapat menjadi jawaban terbaik.”

“Bagus.”

“Dan, aku segera membinasakan gerombolan penculik itu setelah Arum Sari berada di tanganku.” Patraman berkata seraya memicingkan mata dan menatap tajam Laksa Jaya.

“Apakah itu berarti engkau akan menggunakan para pengawal kademangan dan ditambah wewenangmu sebagai lurah prajurit?”

“Tidak seluruhnya akan seperti itu,” ucap Patraman kemudian meneruskan, ”aku dengar dari pembicaraan beberapa lurah prajurit, bahwa Ki Cendhala Geni telah melarikan diri ketika disergap pasukan Ki Rangga Ken Banawa di Alas Cangkring.”

“Aku pun mendengar berita itu,“ sahut cepat Laksa Jaya.

“Dari beberapa petugas sandi,” kata Patraman kemudian, ”Ki Cendhala Geni sebenarnya mengikuti perkembangan yang terjadi di kotaraja. Tentu kau juga sudah mendengar bagaimana sikap Ki Nagapati pada Sri Jayanegara. Dan tentu saja untuk orang-orang seperti Ki Cendhala Geni akan mengambil keuntungan dari ceruk yang dalam. Apabila apa yang aku lakukan ini dapat menggapai keberhasilan, sudah barang tentu orang seperti itu akan dapat menjadi penghalang. Maka itu aku kira lebih cepat kita menyingkirkan Ki Cendhala Geni akan lebih baik.

baca juga :  Langit Hitam Majapahit - Gunung Semar (3 - habis)

“Untuk itulah aku akan menyuruh Rajapaksi menemui Ki Banawa untuk menuntaskan kawanan Ki Cendhala Geni. Dengan begitu, kita tidak perlu susah payah memburu orang itu. Karena jika Ki Banawa telah memburunya maka satu pekerjaan kita telah diselesaikan oleh senapati itu.”

“Aku dapat menerima rencanamu tanpa keraguan,” kata Laksa Jaya. Ia berhenti sejenak seolah satu lintasan kuat tengah memasuki benaknya. Bagus! Tidak terpikir olehku untuk menggunakan Ki Banawa dalam menggulung Ki Cendhala Geni, gumam Laksa Jaya. Kemudian ia berkata, “Dengan begitu kita telah mengurangi lagi satu penghalang dengan tangan yang bersih. Apakah engkau terpikir untuk menggabungkan diri dengan kekuatan yang ada di pantai timur?”

“Ki Sentot Tohjaya?”

“Tentu saja,” dengan nada datar Laksa Jaya menjawabnya lalu, “Siapa yang berani berdiri tegak kemudian melayangkan tantangan pada raja Majapahit untuk saat ini?”

Patraman tidak segera menyahut ucapan Laksa Jaya. Sejumlah waktu ia gunakan untuk merenungi kata-kata kawan dekatnya itu. Mungkin bergabung dengan Ki Sentot adalah jalan terakhir ketika segala permainan telah terbongkar, pikirnya.

Baca juga :
  1. Bab 1 Menuju Kotaraja
  2. Bab 2 : Matahari Majapahit
  3. Bab 3 : Di Bawah Panji Majapahit
  4. Bab 4 : Gunung Semar
  5. Bab 5 : Tiga Orang

“Tentu saja bergabung dengan mereka akan menjadi hal yang sulit kamu lakukan bila mereka tahu permainan ini. Penculikan.ini sudah pasti tidak akan dapat diterima oleh Ki Sentot Tohjaya. Bagaimanapun juga kita harus mengingatnya sebagai seorang perwira yang mempunyai martabat cukup tinggi,” ucap kata Laksa Jaya mengigatkan Patraman agar tidak gegabah.

Patraman terdengar bergumam sendiri, lalu ia menggerakkan lidahnya, “Baiklah Laksa Jaya, kita dapat pikirkan itu setelah pekerjaan pertama, menculik Arum Sari, telah tuntas.

“Siang ini aku segera kirimkan beberapa orang untuk mencari tahu keberadaan Ki Cendhala Geni. Dan tugasmu adalah menemui Ki Cendhala Geni setelah diketahui di mana ia berada.”

“Aku setuju.”

Kecamuk pikiran Patraman segera meruncing dan bayangan wajah Pang Randu tiba di pelupuk matanya. Ia merasa telah berbuat banyak bagi Pang Randu, terlebih lagi rencana penculikan juga berasal darinya, maka Patraman merasa lebih ringan bila ia melangkah masuk ke lingkaran Ki Sentot Tohjaya. Sejenak ia mengamati dari luar pandangannya sebagai perwira Majapahit, lalu didapatinya bahwa kedudukan yang ia peroleh akan terancam. Hukuman mati menjelang dalam benaknya. “Digantung di depan banyak orang tentu bukan keinginan orang tuaku. Namun, aku telah dewasa dan sekiranya aku tertangkap hidup-hidup maka sudah pasti Pang Randu akan membersihkan namaku. Ia telah berjanji,” hati Patraman berkata-kata.

Siang itu juga beberapa orang segera berangkat menelusuri jejak Ki Cendhala Geni. Sementara Laksa Jaya mengadakan beberapa persiapan untuk berbagai kemungkinan yang akan terjadi bila suatu ketika bertemu dengan Ki Cendhala Geni.

Beberapa hari kemudian, Patraman mendapat kabar bahwa Ki Cendhala Geni dan Ubandhana berada di Kahuripan setelah berhasil lolos dari sergapan prajurit  yang dipimpin oleh Ken Banawa.

Baca juga :
  1. Bab 1 Menuju Kotaraja
  2. Bab 2 : Matahari Majapahit
  3. Bab 3 : Di Bawah Panji Majapahit
  4. Bab 4 : Gunung Semar
  5. Bab 5 : Tiga Orang

 

(bersambung)

 

 

 

 

baca juga

Langit Hitam Majapahit – Tiga Orang ( 2 -habis )

Agus Supriyadi

Langit Hitam Majapahit – Tiga Orang ( 1 )

Agus Supriyadi

Langit Hitam Majapahit – Siasat Gajah Mada

Agus Supriyadi