Memorandum.co.id – Berita Peristiwa Kriminal Hari Ini
Surabaya

Pakar Epidemiologi : Surabaya Belum Aman

Pakar Epidemiologi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr Windhu Purnomo

Surabaya, memorandum.co.id – Pemkot Surabaya mengeluarkan Peraturan Wali Kota (Perwali) no 33 tahun 2020 tentang tatanan hidup baru di masa pandemi Covid-19. Pakar Epidemiologi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr Windhu Purnomo sependapat, kebijakan tersebut, utamanya menyangkut penutupan rekreasi hiburan umum (RHU) atau hiburan malam, adalah langkah yang tepat.

“Nah jadi (Perwali 33) itu memang benar. Itu dilarang selama kondisi Surabaya belum hijau,” kata Windhu.

Secara epidemiologi, Surabaya masih belum aman dari ancaman virus corona. Bahkan, Surabaya masih berada di zona merah dan tingkat penularannya masih tinggi, sehingga sementara tempat-tempat tersebut tidak boleh beraktifitas.

baca juga :  Video : Pekerja Seni Demo Balai Kota Surabaya

Kriteria world health organization (WHO) atau organisasi kesehatan dunia tingkat penularan yang simbolnya rate of transmission (RT) harus di bawah satu selama 14 hari berturut-turut.

Sedangkan di Surabaya, angka RT masih fluktuatif, sehingga menurut Windhu, Covid-19 di Surabaya sama sekali belum bisa disebut terkendali.

Oleh karenanya, Windhu menyarankan supaya para pelaku usaha RHU sementara waktu tak beroperasi dahulu.  Menurut dia, kebijakan tersebut seharusnya tidak hanya berlaku pada hiburan malam (karaoke, bar, diskotik, panti pijat) saja, tetapi juga kegiatan masyarakat di tempat publik di dalam ruang tertutup. Contohnya seperti mal dan bioskop. “Makin tertutup ruangan itu sirkulasi udaranya makin buruk dan beresiko tinggi terjadinya penularan,” imbuhnya.

baca juga :  Video : Pekerja Seni Demo Tuntut Cabut Perwali 33/2020

Ditegaskan Windhu, meski diterapkan protokol kesehatan, seperti jaga jarak, lalu menggunakan masker dan face shield saat berada di tempat yang kondisinya tertutup, itu juga masih rentan timbul klaster baru. Para ahli menemukan bukti bahwa penularan tidak hanya melalui droplet besar, tapi juga micro droplet yang melayang di udara. “Apalagi (pada tempat tertutup ada) asap rokok. Kemudian orang berkerumun. Itu sangat beresiko tinggi terjadi penularan. Akan terjadi klaster-klaster baru yang masiv di tempat-tempat tertutup,” tegasnya. (alf/rif)

baca juga :  PKB: Perwali 33/2020 Untungkan Pengusaha Besar, Tidak Berpihak Rakyat Kecil

 

Reporter : Alfin

baca juga

Video : Pekerja Seni Demo Tuntut Cabut Perwali 33/2020

Agus Supriyadi

Video : Pekerja Seni Demo Balai Kota Surabaya

Agus Supriyadi

Soal Perwali 33/2020, Pemuda Pusura Dorong Pemkot Segera Carikan Solusi Terbaik

Aziz Manna Memorandum