Memorandum.co.id – Berita Peristiwa Kriminal Hari Ini
Kriminal

Pelaku Makin Pintar

Nuke Irmawati, nasabah BCA.

Surabaya, memorandum.co.id – Kejahatan perbankan saat ini harus diperhitungkan pihak kepolisian, terutama unit cyber crime. Para pelaku pembobolan rekening bank saat ini semakin bertambah pintar seiring perkembangan teknologi. “Mereka belajar dari media sosial dan langsung dipraktikkan,” kata Nuke Irmawati.

Terlebih dengan adanya kasus pembobolan uang nasabah bank daerah di Sumatera Selatan. Ini sudah menjadi bukti lemahnya sistem keamanan bank dan pelaku semakin pintar. Hanya bermodal struk ATM bekas, pelaku melacak nomor rekening, memalsu KTP berdasarkan data di website KPU hingga membuat buku tabungan palsu.

Untuk itu, menurut Nuke, bagi masyarakat Surabaya, setelah mengambil uang di mesin ATM jangan langsung dibuang. Wanita ini menyarankan, struk dibawa pulang, disimpan, atau dimusnahkan agar data tidak terdeteksi pelaku kejahatan perbankan. “Hati hati jangan mudah membuang struk ATM di sampah. Lebih aman dibawa pulang,” kata wanita kelahiran Surabaya 1982 ini.

baca juga :  Otoritas Jasa Keuangan: Pengamanan Perbankan Harus Berlapis

Selain itu, wanita berhijab ini juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah memberikan data, meng-aploud data penting melalui situs-situs yang tidak penting di media sosial. “Kalau kita sudah save data kita, apabila tetap kebobolan itu namanya takdir,” imbuh Nuke, anak kedua dari dua bersaudara ini.

Pengusaha minuman juice kemasan ini mengungkapkan, pernah menjadi korban pelaku kejahatan perbankan. “Dari kejadian itu, uang gaji dalam ATM BCA amblas dikuras pelaku,” ungkap warga Jalan Petemon Timur ini.

baca juga :  Kuras ATM Modal Tusuk Gigi dan Menipu

Waktu itu, dia sedang bekerja di sebuah perusahaan properti berkantor di daerah Ketintang. Mendadak mendapatkan telepon dari seorang laki-laki yang mengaku hendak membeli rumah. Setelah disepakati, uang muka akan ditransfer melalui rekening bank.

Karena dagangan rumahnya ingin cepat laku, membuat Nuke mau saja ketika dipandu per telepon oleh pelaku untuk pergi ke ATM. “Kata pelaku untuk transfer uang, saya disuruh memasukkan kode yang diberikan. Entah itu kode apa setahu saya nomor telepon,” beber Nuke.

Setelah dia memasukkan kode itu, awalnya tidak terjadi apa-apa. Dia baru mengetahui saat ada pemberitahuan kredit masuk melalui SMS di HP-nya. Setelah dilihat kredit tersebut tulisannya langsung hilang. Dan ternyata setelah dicek, uang dua juta miliknya di tabungan ATM raib. “Hanya beberapa juta saja yang hilang, padahal ada puluhan juta di dalam ATM,” tukasnya. (rio/nov)

baca juga :  Manfaatkan Struk ATM Bekas, Palsu Dokumen

baca juga

Pengamat ITE: Manfaatkan Notifikasi Transaksi via SMS atau Email

Aris Setyoadji

Otoritas Jasa Keuangan: Pengamanan Perbankan Harus Berlapis

Aris Setyoadji

Manfaatkan Struk ATM Bekas, Palsu Dokumen

Aris Setyoadji