Memorandum.co.id – Berita Peristiwa Kriminal Hari Ini
Surabaya

Sehari, Rumah Kompos Keputran Olah 10 Ton Lebih Limbah Sayur

Proses pemuatan limbah sayuran di Rumah Kompos Keputran

Surabaya, memorandum.co.id – Tidak jauh dari Pasar Keputran Utara, nampak 3 orang tengah berjibaku menggiling limbah sayuran. Sesaat kemudian 2 orang lainnya menggeret bak hasil gilingan limbah tersebut menuju truk compactor seharga 1 miliar.

Di antara 5 orang itu mereka adalah Kemi (41) dan Eko (42), satuan petugas dari Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya. Mereka bertugas mengawal limbah sayuran di Rumah Kompos Keputran.


Setiap harinya mereka memuat limbah sayuran yang dihasilkan oleh Pasar Keputran Utara, salah satu pasar induk terbesar di Kota Surabaya. Tak ayal, limbah yang dihasilkan lumayan besar.

baca juga :  Rumah Kompos Bratang, Menyulap Sampah Jadi Suplemen Penyubur Taman Kota

“Sehari kita muat lebih dari 10 ton limbah sayurannya saja. Itu belum termasuk sisa limbah sayuran yang tercampur oleh plastik, karena kita sendirikan,” kata Kemi, 10 tahun menjadi bagian dari DKRTH, Selasa (23/2/2021).

Sementara itu, Eko menambahkan, sekitar 40 kali sudah dirinya bolak-balik mendorong bak berkapasitas 2 kubik untuk dimuat ke dalam truk sampah.

“Setelah digiling, limbah sayuran tadi dimasukkan ke dalam truk. Nanti sama truk, limbah tadi dikirim ke Rumah Kompos Wonorejo,” tambah Eko, warga Platuk Donomulyo.

baca juga :  Tak Terima Ditegur, Pedagang Pasar Keputran Bacok Satpol PP

Tidak hanya itu, selidik, sesampainya di dalam bak truk, limbah sayuran tadi secara otomatis dipres. Sebab itulah truk compactor dihargai Rp 1,1 miliar, karena selain disertai penutup juga dilengkapi dengan fitur pres.

Diakui oleh Kemi, tidak ada kendala serius yang dialami baik dirinya maupun rekan kerjanya selama proses pemuatan limbah yang dimulai pukul 6 pagi hingga pukul 3 sore.

Hanya saja, dirasakan Kemi tenaga cepat terkuras. Karena tidak sekedar bongkar muat, mereka perlu mencacah sayuran yang terkumpul terlebih dahulu. Agar mudah saat masuk ke mesin penggiling.

baca juga :  Pasar Keputran Dipasang Kipas Angin Disinfektan

“Kadang kalau ada yang libur beratnya di situ. Kan biasanya kita 6 orang, tapi setiap bulan kita diberi jatah libur 2 kali. Jadi terkadang kita bekerja hanya 5 orang, lumayàn berat dan menguras tenaga, tetapi itulah yang membuat kita menjadi laki-laki,” pungkasnya. (mg3)

baca juga

Tak Terima Ditegur, Pedagang Pasar Keputran Bacok Satpol PP

Aris Setyoadji

Sore ini, Pasar Keputran Dibuka Kembali

Agus Supriyadi

Rumah Kompos Bratang, Menyulap Sampah Jadi Suplemen Penyubur Taman Kota

Aziz Manna Memorandum