Memorandum.co.id – Berita Peristiwa Kriminal Hari Ini
Cerita Silat

Langit Hitam Majapahit – Siasat Gajah Mada

Sementara di tempat lain seorang perwira berpangkat rendah yang  menyelinap keluar dari lingkungan kota Kahuripan, akhirnya tiba di kotaraja sesaat sebelum fajar berpendar. Tanpa banyak kesulitan ia memasuki gerbang kotaraja. Para prajurit yang berjaga sudah banyak mengenalnya sebagai seorang perwira yang dipercaya Dyah Gitarja. Perwira bertubuh besar dan agak tinggi ini segera menuju bangunan yang ditempati Bhre Kahuripan jika berada di kotaraja.

Pengawal yang berada di regol halaman berjalan mendampinginya hingga tamunya masuk menemui Bhre Kahuripan.


“Ada apa kau pagi-pagi telah menyusulku kemari, Kakang?” bertanya Dyah Gitarja dengan tatap mata penuh selidik.

Perwira itu menarik napas dalam-dalam, sejenak ia membenahi letak duduknya lalu, ”Saya kemari karena Kahuripan telah dikuasai oleh Ki Srengganan dan kawanan Ki Cendhala Geni. Tidak banyak yang dapat aku lakukan selain menggeser pasukan yang masih setia kepadamu.”

Dyah Gitarja yang masih berdiri tegak menggeram marah. Wajahnya memerah akan tetapi ia masih dapat menahan diri. Kemudian kata Bhre Kahuripan, ”Ke mana kau menggeser pasukan itu, kakang?”

“Mereka masih di dalam kota, Sri Batara. Aku meminta mereka untuk tunduk pada Ki Srengganan dan Ki Cendhala Geni,” jawab orang yang dipanggil kakang.

“Kau sama sekali tidak melakukan perlawanan? Lalu bagaimana aku dapat kembali ke Kahuripan?” Dyah Gitarja hampir-hampir tidak dapat menahan diri untuk berteriak. Penguasa Kahirupan ini kemudian menghempaskan tubuh ke sebuah lincak bambu yang berada di sebelah sebuah guci besar.

“Katakan padaku, Kakang Gajah Mada. Katakan jika kau sebenarnya memang memiliki rencana untuk menghalau mereka keluar?” Bhre Kahuripan bertanya kemuIan menutup wajah dengan kedua telapak tangan.

Baca juga :
  1. Bab 1 Menuju Kotaraja
  2. Bab 2 : Matahari Majapahit
  3. Bab 3 : Di Bawah Panji Majapahit
  4. Bab 4 : Gunung Semar
  5. Bab 5 : Tiga Orang
  6. Bab 6 : Wringin Anom
  7. Bab 7 : Pemberontakan Senyap

“Aku memang sengaja membiarkan mereka menguasai kota dan keraton. Beberapa prajurit telah bersiap sebelum ada Pasowan Agung di Paseban,” Gajah Mada menunggu Bhre Kahuripan mengucapkan kata-kata. Setelah beberapa saat, ia meneruskan, ”Kabar mengenai Ki Srengganan yang berencana menguasai kota sebenarnya telah aku dengar sepekan sebelumnya. Akan tetapi, maafkan aku, aku tidak memberitahumu.”

Gajah Mada menatap lurus wajah Bhre Kahuripan. Gajah Mada mendesah dalam hatinya, ”Aku terpaksa melakukan itu karena hampir di setiap jenjang keprajuritan dan pelayan telah berisi orang-orang Ki Srengganan.”

“Apakah itu berarti kau telah tidak percaya kepadaku, Kakang?“ datar Dyah Gitarja bertanya. Ia menatap Gajah Mada dengan satu pandangan tajam yang mampu memutus urat jantung perwira yang setia padanya itu.

Bhre Kahuripan melanjutkan kemudian, ”Tetapi baiklah. Tentu saja kita harus bertemu dengan Sri Jayanegara dan Mpu Nambi sebelum membahas banyak persoalan, terutama mengenai Kahuripan,” kata Dyah Gitarja.

Gajah Mada tidak memberi tanggapan. Keningnya berkerut namun ia tak melepaskan perhatian dari ucapan pemimpinnya.

Suara Bhre Kahuripan masih menggema, “Sebaiknya Kakang katakan rencana itu pada saat kita bertemu Sri Jayanegara dan Mpu Nambi.”

“Aku mendengarkan.”

baca juga :  Langit Hitam Majapahit - Matahari Majapahit (3-habis)

“Tidak ada lagi pembicaraan,” tutup Bhre Kahuripan. “Untuk sementara waktu hingga pertemuan itu tiba, Kakang dapat beristirahat dulu di gandok kanan. Kakang tentu lelah berjalan sepanjang malam.”

Dyah Gitarja juga melihat Gajah Mada mengalami kelelahan jiwa yang luar biasa. Ia akhirnya dapat mengerti tekanan yang dialami oleh kakanya itu. Betapa Gajah Mada memendam rahasia cukup lama mengenai Ki Srengganan, yang sebelumnya seorang Patih Kahuripan, yang berencana menyingkirkan Dyah Gitarja sebagai penguasa yang sah.

Baca juga :
  1. Bab 1 Menuju Kotaraja
  2. Bab 2 : Matahari Majapahit
  3. Bab 3 : Di Bawah Panji Majapahit
  4. Bab 4 : Gunung Semar
  5. Bab 5 : Tiga Orang
  6. Bab 6 : Wringin Anom
  7. Bab 7 : Pemberontakan Senyap

“Tentu ia merasa bersalah. Aku tahu bagaimana perasaan kakang Gajah Mada mengenai pembangkangan ini.” Dyah Gitarja bergumam dalam hati sambil mengantarkan Gajah Mada menuju biliknya.

Matahari yang bersinar cerah menerangi bumi kotaraja akan tetapi tidak mampu mengusir bayangan gelap yang menggelayut dalam benak Gajah Mada. Bhre Kahuripan, Gajah Mada dan beberapa pengawal berjalan beriringan menuju keraton untuk bertemu dengan Sri Jayanegara dan Mpu Nambi.

Tak lama kemudian mereka telah duduk melingkar di dalam ruangan yang aroma wanginya memenuhi setiap bagian. Sri Jayanegara yang masih berusia muda terlihat tenang saat membuka pertemuan yang sangat penting itu. Di sebelahnya seorang lelaki dengan pakaian berwarna merah dengan sulaman benang emas menebar pandang menatap satu per satu orang yang di sekelilingnya. Mpu Nambi terlihat sangat gagah dan wibawa besar memancar keluar dari sorot matannya. Dyah Gitarja dan Gajah Mada duduk berhadapan dengan dua orang tertinggi di Majapahit.

“Berita apa yang kau bawa kemari, Dyah Gitarja?” Sri Jayanegara bertanya setelah sepatah dua patah ia ucapkan untuk mengawali pertemuan.

Perempuan yang usianya sudah menjelang dewasa itu menoleh sesaat pada Gajah Mada, lalu menarik napas panjang. Kemudian bibirnya bergerak, ”Kakang Gajah Mada yang membawa berita dari Kahuripan.”

“Bukankah aku mendengar sebenarnya kau ingin aku mengirim tambahan prajurit untuk keamanan di kotamu? Lalu atas desakan apa kakang Gajah Mada mendatangi kotaraja?” Sri Jayanegara bertanya dengan alis sedikit terangkat. Bergantian ia memandang kedua tamunya.

“Yang Anda dengar adalah keinginanku sebelum kedatangan kakang Gajah Mada tadi pagi.”

Kini Mpu Nambi lurus melihat wajah Gajah Mada yang terlihat tegang. Bibir Gajah Mada terkatup rapat sementara matanya memandang permukaan meja.

“Terjadi apakah di Kahuripan, Gajah Mada?” bertanya Mpu Nambi.

Napas Gajah Mada terdengar panjang dilepaskan. Ia mencoba menata diri sebelum menyampaikan keadaan Kahuripan di hadapan dua pemimpin Majapahit. Ia menggeser letak duduknya sejengkal surut. Lalu dengan dada tegak ia berkata, ”Ki Srengganan telah menguasai pemerintahan Kahuripan sepeninggal Bhre Kahuripan.” Singkat Gajah Mada menyampaikan berita yang membuat Sri Jayanegara terlihat pucat dan menatap wajah Gajah Mada dengan mulut ternganga.

Sri Jayanegara dengan napas sedikit memburu lalu melirik Mpu Nambi lantas bertanya, ”Apa yang harus aku lakukan, Paman? Sementara saat ini Ki Nagapati telah memusatkan perhatiannya ke kotaraja.”

baca juga :  Langit Hitam Majapahit - Malam Penumpasan (1)

Tiba-tiba ia berdiri, pandang mata Sri Jayanegara terlihat nanar dan penuh amarah. ”Aku tidak akan pernah memberi apa yang diinginkan Ki Nagapati!”

Suara Sri Jayanegara cukup lantang terdengar dan cukup mengagetkan tiga orang yang duduk di sekelilingnya. Kemudian ia menghadap Mpu Nambi lalu, ”Katakan Paman! Aku harus berbuat apa?”

Ia menghentak-hentakkan kakinya dan keresahan sangat jelas terpancar dari raut wajahnya.

Mata yang menyorotkan wibawa dan ketenangan itu menyapu pandangan sekelilingnya. Ia bangkit lalu berkata, ”Gajah Mada, kau harus kembali ke Kahuripan dan susun pasukan yang berada di balik dinding kota. Dan aku akan perintahkan Ki Rangga Ken Banawa pergi mencari Ki Nagapati, tetapi jika pembicaraan itu gagal maka aku sendiri yang menghadapi Ki Nagapati. Setelah itu terjadi Ken Banawa harus membawa pasukannya menuju Kahuripan.”

Sri Jayanegara merasa dadanya menjadi lapang mendengar rencana singkat Ki Patih Mpu Nambi. Ia menyandarkan punggung lalu berkata, ”Aku akan panggil Ki Rangga datang ke ruangan ini.”

Lantas ia meminta seorang penjaga untuk meminta Ken Banawa untuk datang secepatnya.

“Silahkan masuk, Paman!” kata Dyah Gitarja setelah seorang penjaga melaporkan kedatangan orang yang dimaksud oleh Sri Jayanegara.  Penjaga ini juga mengatakan jika Ken Banawa tidak datang seorang diri.

Ken Banawa datang memasuki ruang tanpa tanda jasa atau kepangkatan yang biasa tersemat pada pakaian perwira prajurit Majapahit. Berulang kali ia menolak menolak anugerah dari raja Majapahit karena merasa pengabdiannya belum sempurna.

Baca juga :
  1. Bab 1 Menuju Kotaraja
  2. Bab 2 : Matahari Majapahit
  3. Bab 3 : Di Bawah Panji Majapahit
  4. Bab 4 : Gunung Semar
  5. Bab 5 : Tiga Orang
  6. Bab 6 : Wringin Anom
  7. Bab 7 : Pemberontakan Senyap

“Seorang anak muda bernama Bondan?” Alis Sri Jayanegara sedikit mengerut seperti mengingat sesuatu. Ia tidak melepaskan pandang matanya dari seorang lelaki muda yang berjalan di belakang Ken Banawa.

“Usia anak muda yang bernama Bondan mungkin tidak terpaut jauh denganku. Tetapi siapakah ia? Sementara paman Paman Nambi seperti sudah mengenalnya.” Sri Jayanegara masih bertanya-tanya dalam hatinya. Pada saat itu Ken Banawa duduk berdampingan dengan Bondan dan diapit oleh Dyah Gitarja serta Gajah Mada.

“Baiklah, kita semua telah lengkap,” kata Mpu Nambi ketika melihat orang-orang telah mengatur diri mereka masing-masing. Ia terdiam sesaat, lalu katanya, ”Kakang Ken Banawa, aku akan katakan singkat mengenai kehadiran Bhre Kahuripan dan Gajah Mada di ruangan ini.” Lalu ia menceritakan semua yang telah dilaporkan oleh Gajah Mada. Sementara Ken Banawa dan Bondan sesekali menganggukkan kepala.

“Dan sekarang saya bertanya padamu, Kakang,” Mpu Nambi memandang Ken Banawa yang masih belum bersuara. ”Apakah ada gambaran singkat tentang rencana yang akan dilakukan jika aku serahkan pemecahan persoalan ini pada Anda?”

Tiba-tiba Sri Jayanegara berseru, ”Aku ingat sekarang!”

Lalu ia bertanya kepada Bondan tentang kedua orang tua dan keadaan di Pajang. Mendengar seruan Sri Jayanegara, Bondan hanya tersenyum lalu menjawab semua pertanyaan raja Majapahit yang berusia lebih muda sedikit darinya. Setelah mendengar jawaban Bondan, wajah Sri Jayanegara terlihat berseri-seri lalu ia berkata,”Dengan demikian, bertambah satu kekuatan lagi untuk kerajaan kita. Baiklah, aku serahkan kembali ke paman Nambi.” Sri Jayanegara mempersilahkan Mpu Nambi untuk kembali ke pokok persoalan.

baca juga :  Langit Hitam Majapahit - Rawa-Rawa (5)

Mpu Nambi mengangkat tangannya pada Ken Banawa.

“Gambaran singkat tentang kekuatan prajurit yang diuraikan Ki Lurah Gajah Mada masih tersimpan di balik dinding kota, saya kira sudah cukup untuk melumpuhkan Ki Srengganan dari dalam. Dan saya akan mencoba memutus semua jalur yang menghubungkan Kahuripan dengan daerah yang lain,” tegas Ken Banawa.

Gajah Mada kemudian menyatakan pendapatnya dan rencana yang ia pikirkan. Satu gagasan yang membuat kagum setiap orang yang mendengarnya. Sebuah keyakinan atas kemampuan yang ia miliki, lalu  ditambah kepercayaan pada Ken Banawa, telah menjadikan Gajah Mada berani mengambil akibat buruk dengan menangkap secara langsung Ki Srengganan di dalam keraton.

“Sebuah langkah yang berbahaya, tetapi mungkin itu juga akan menjadi satu-satunya jalan menghindari pertumpahan darah yang sia-sia,” kata Sri Jayanegara. Ia menyetujui semua pendapat orang-orang dan meminta Mpu Nambu untuk segera merangkai semua rencana yang disepakati.

Pada hari yang sama, menjelang senja, di pusat kotaraja, Mpu Nambi sedang memimpin pertemuan dengan beberapa senapati. Ken Banawa berada di sebelah Bondan yang duduk berdampingan dengan Dyah Gitarja, Bhre Kahuripan. Kehadiran Bondan yang tidak mengenakan pakaian prajurit mengundang pertanyaan di antara senapati. Menyadari jika Bondan sedang menjadi pusat perhatian, maka Mpu Nambi segera menjelaskan secara singkat perihal Bondan.

Penjelasan itu agaknya dapat diterima oleh para senapati yang menghadiri pertemuan.

Baca juga :
  1. Bab 1 Menuju Kotaraja
  2. Bab 2 : Matahari Majapahit
  3. Bab 3 : Di Bawah Panji Majapahit
  4. Bab 4 : Gunung Semar
  5. Bab 5 : Tiga Orang
  6. Bab 6 : Wringin Anom
  7. Bab 7 : Pemberontakan Senyap

Seorang senapati berdiri dan memberi kesaksian. Ia berkata, ”Saya pernah melihatnya. Sekali. Kami bertemu saat bertempur di Alas Cangkring. Tentu saja dalam usia yang masih terhitung muda, anak itu dapat dikatakan nekad. Tetapi, aku mengingat satu perbuatannya.” Ia berdiam sejenak saat seluruh mata memandang dirinya.

Senapati itu menarik napas dalam-dalam lalu, ”Aku tidak tahu apakah Ia berani atau berbuat tanpa perhitungan, yang aku ketahui adalah jika malam itu ia tidak berbuat apapun, maka seluruh darah pasukan kami akan membasahi Alas Cangkring.

“Ia banyak membawa prajurit terluka ke tepi lingkaran. Kemudian, bantuan Tuan Banawa dan Gumilang dapat merubah keadaan.”

Seorang lainnya mengangkat tangan lalu bertanya, ”Apa pangkatmu pada saat itu?”

“Aku masih menjadi wakil dari Ranggawesi,” jawab senapati yang terlibat dalam Alas Cangkring.

Kemudian Mpu Nambi meneruskan pertemuan sesuai garis besar yang telah disetujui  oleh Sri Jayanegara.

Tak lama, setelah pertemuan itu dinyatakan selesai, setiap senapati telah menuju tempat yang ditunjuk oleh Mpu Nambi. Sehingga, pada akhirnya, setiap jengkal perbatasan kotaraja dan jalur yang menghubungkannya dengan Kahuripan telah berada dalam pengawasan prajurit.

(bersambung)

 

 

 

 

baca juga

Langit Hitam Majapahit – Wingin Anom

Agus Supriyadi

Langit Hitam Majapahit – Tiga Orang ( 2 -habis )

Agus Supriyadi

Langit Hitam Majapahit – Tiga Orang ( 1 )

Agus Supriyadi