Memorandum.co.id – Berita Peristiwa Kriminal Hari Ini
Cerita Silat

Toh Kuning Benteng Terakhir Kertajaya – Penyelamatan (1)

Langkah kaki Ken Arok tertahan ketika mendengar Toh Kuning berseru.

Toh Kuning berjalan menghampirinya lalu berkata, ”Mereka yang memaksa diri pergi ke kotaraja akan menjadi urusanku.”

Ken Arok mengangguk.

Lalu Toh Kuning melanjutkan, ”Kau bawa anak buahmu kembali ke Tumapel atau bila engkau ingin pergi ke Ganter, pergilah!”

Kemudian Toh Kuning memanggil Pamekas, ia berkata, ”Berikan bungkusan ini pada Ki Tumenggung Gubah Baleman. Kau ajak dua atau tiga orang kawanmu dalam perjalanan menemui beliau.” Pamekas mengambil bungkusan kain yang disodorkan Toh Kuning padanya.

“Aku akan pergi ke Ganter,” kata Ken Arok sambil mendekati Toh Kuning.

Pamekas berpaling pada Ken Arok lalu bergantian menatap wajah Toh Kuning. Toh Kuning menangkap keraguan dalam hati Pamekas kemudian ia berkata, ”Kau tidak perlu pergi bersama Ken Arok. Tetapi bila kalian percaya padaku, kalian akan mendapat tambahan tenaga yang siap membantu dalam kesulitan.” Toh Kuning berpaling pada Ken Arok yang kemudian menganggukkan kepala.

Pergi beriringan dengna Ken Arok ke medan perang di Desa Ganter merupakan keputusan ajaib Toh Kuning untuk pasukannya. Namun itu menunjukkan bahwa ia masih percaya pada Ken Arok sebagai orang yang dapat membedakan kepentingan dan kedudukan.

Tentu Ken Arok tidak akan rela kemenangannya di Desa Ganter ternoda oleh perang kecil dalam perjalanan ke sana. Toh Kuning dapat menduga jalan pikiran orang yang bertahun-tahun hidup bersamanya, bahwa Ken Arok berkemauan besar untuk dikenang dan disejajarkan namanya dalam penyebutan dewa-dewa.  Atas pemahamannya tentang diri Ken Arok, Toh Kuning dapat melepaskan belenggu kekhawatiran dari perasaannya. Namun, bila terjadi peristiwa buruk pada Pamekas dan pengiringnya, Toh Kuning tahu yang dilakukannya secara khusus pada Ken Arok.

Lalu Pamekas berkata, ”Saya akan pergi bersama Ken Arok.”

Lega hati Toh Kuning mendengarnya. Kemudian ia memandang wajah Ken Arok. Melalui sorot matanya, Toh Kuning meminta Ken Arok segera meninggalkan mereka. Seolah tahu keinginan Toh Kuning, maka Ken Arok pun menjauh lalu bergabung kembali pada barisan anak buahnya.

Sepeninggal Ken Arok, lurah pasukan khusus Selakurung itu kemudian memberi pesan-pesan yang penting untuk diketahui oleh Ki Tumengung Gubah Baleman. Pesan dan siasat telah tuntas untuk disampaikan, maka Toh Kuning menghampiri kelompok Ken Arok. Ia berkata pada pengganti Tunggul Ametung, ”Aku harus memasuki kotaraja sebelum kawanmu tiba di sana.”

Ken Arok menengadahkan wajahnya kemudian menatap lurus Toh Kuning, katanya, ”Kau harus selesaikan pekerjaan ini.”

Kedua lelaki muda itu sama-sama membeku. Di sela-sela ruangnya berpikir, Ken Arok akan menghapus nama karibnya. Ucapnya, “Tidak akan ada lagi nama Toh Kuning. Toh Kuning adalah pisau yang tajam walau pun kadang dapat berubah menjadi benda tumpul. Ia adalah penghalang bila umurku masih panjang.”

Sunyi.

Ken Arok memberi isyarat pada pengikutnya untuk bergerak meninggalkan lembah. Kerumunan bayangan semakin mengecil ketika Pamekas menyusul di belakang mereka. Toh Kuning mengangguk-angguk sewaktu melepaskan pandangan pada dua rombongan itu, lalu pergi meninggalkan lembah sempit di lereng Kelud dengan ditemani dua prajuritnya.

Matahari telah tenggelam di balik punggung Gunung Kelud.

Suasana kembali sunyi ketika patahan ranting tak lagi terinjak oleh derap kaki. Suasana begitu hening ketika daun kering tak lagi bergeser dengan tapak-tapak kaki. Saat malam belum beranjak terlalu dalam, lembah telah mendekap sepi.

Satu rombongan dipimpin Ken Arok berjalan menuju Ganter.

Satu rombongan yang lebih kecil pun berada jauh dari lembah.

Dan Toh Kuning yang disertai dua orang lainnya menuju gerbang kotaraja. (bersambung)

 

 

 

baca juga

Toh Kuning Benteng Terakhir Kertajaya – Tanah Larangan (7-habis)

Agus Supriyadi

Toh Kuning Benteng Terakhir Kertajaya – Tanah Larangan (6)

Agus Supriyadi

Toh Kuning Benteng Terakhir Kertajaya – Tanah Larangan (5)

Agus Supriyadi