Memorandum.co.id – Berita Peristiwa Kriminal Hari Ini
Cerita Silat

Toh Kuning Benteng Terakhir Kertajaya – Penyelamatan (2)

Jalanan tampak lengang dan kesunyian begitu mencekam sangat terasa di setiap sudut kota. Hilir mudik pedagang yang sering lalu lalang melintasi gerbang kini hanya ditebari segelintir orang. Dampak peperangan begitu terasa merasuki setiap sendi-sendi kehidupan di kotaraja. Hari masih terlalu pagi ketika satu pasukan berkuda keluar melewati pintu gerbang. Namun Toh Kuning tidak menaruh perhatian pada mereka. Ia bergegas mengajak dua teman perjalanannya melangkah lebih cepat menuju istana raja.

Matahari telah menanjak setinggi tombak ketika Toh Kuning berada di gardu jaga.

“Bukankah kau yang bernama Toh Kuning?” bertanya seorang prajurit jaga.

“Benar.”

“Benarkah kau melarikan diri dari peperangan?”

Toh Kuning menggeleng. Ia menjawab, ”Aku tidak melarikan diri dari medan perang. Aku memilih tempat untuk berperang.”

“Itu tidak merubah penilaian orang lain padamu,” kata prajurit itu.

“Aku tidak peduli,” tukas Toh Kuning. Lalu lanjutnya, ”Dapatkah aku bertemu dengan pemimpinmu?”

Prajurit itu menggelengkan kepala. Jawabnya, ”Katakan keperluanmu sehingga aku tidak perlu membuat malu diriku sendiri dengan menerimamu sebagai tamu.”

“Kau akan menyesal jika sikapmu mempersulit kami. Dan akhirnya membawa bencana besar bagi Kediri.”

“Bencana itu adalah dirimu, Toh Kuning.”

“Diam!” bentak seorang pengawal Toh Kuning.

Prajurit jaga itu segera merundukkan tombaknya, namun pengawal Toh Kuning berbuat lebih cepat saat merampas senjata prajurit itu.

“Kau rupanya,” tegur seorang perwira yang bertubuh besar dengan ramah. ”Marilah, kau tentu merasa lelah.”

Toh Kuning berpaling dan membungkuk hormat pada perwira jaga yang baru saja memasuki gardu jaga. “Terima kasih, Ki Lurah,” kata Toh Kuning kemudian memerintahkan kawannya untuk mengembalikan senjata prajurit yang dirampas olehnya.

“Sekarang kau dapat utarakan keperluanmu, Ki Lurah,” berkata perwira itu dengan ramah.

“Sekelompok orang datang kemari untuk membawa keluar Sri Baginda,” kata  Toh Kuning lalu melirik keluar gardu jaga.

“Oh, bagaimana mungkin ia menembus ke dalam istana dalam penjagaan ketat seperti ini?”

“Mereka adalah orang yang ingin meraih kemenangan dengan telak. Dan orang-orang ini mempunyai kemampuan lebih tinggi dari pasukan khusus Selakurung,” kata Toh Kuning.

“Dan kalian dari pasukan khusus Selakurung datang kemari untuk menyelamatkan Sri Baginda?”

Toh Kuning mengangguk.

Perwira itu memandang bergantian pada Toh Kuning dan kedua kawannya. Ia berkata heran, ”Tiga orang pasukan khusus datang ke kotaraja untuk menghadang rencana penculikan. Hei, apakah aku dalam keadaan tidak sadar?”

“Benar,” sahut seorang pengawal Toh Kuning yang tidak sabar dengan perlakuan berbelit-belit dari para prajurit jaga.

“Tutup mulutmu!” bentak perwira itu.

“Maafkan aku, Ki Lurah,” pengawal Toh Kuning berkata, ”memang benar bahwa kalian tidak sadar dengan bahaya yang akan melanda istana.”

Perwira itu berpaling pada Toh Kuning.

Kemudian Toh Kuning mengangguk kepala lalu katanya, ”Salah seorang dari mereka akan melumat habis lima puluh orang dari kalian. Dan maksudku adalah kau dapat segera memberi tahu para pengawal raja untuk memasang dinding rintang. Karena dinding rintang itu akan memberi kita waktu untuk membawa Sri Baginda keluar istana.”

“Baiklah, aku harap kau tidak melakukan kesalahan dengan kabar berita ini,” kata perwira itu sambil bersungut-sungut. (bersambung)

 

 

 

baca juga

Toh Kuning Benteng Terakhir Kertajaya – Tanah Larangan (7-habis)

Agus Supriyadi

Toh Kuning Benteng Terakhir Kertajaya – Tanah Larangan (6)

Agus Supriyadi

Toh Kuning Benteng Terakhir Kertajaya – Tanah Larangan (5)

Agus Supriyadi