Memorandum.co.id – Berita Peristiwa Kriminal Hari Ini
Cerita Silat

Toh Kuning Benteng Terakhir Kertajaya – Penyelamatan (4-tamat)

Sementara itu Pamekas dan kawannya dari pasukan khusus telah berpisah dengan Ken Arok beberapa ratus langkah dari medan perang. Kemudian ia menyusur jalan berdebu dan berkerikil tajam menuju perkemahan pasukan Kediri. Meskipun mengalami kesulitan sebagaimana yang dialami Toh Kuning di kotaraja, Pamekas dapat bertemu langsung dengan Ki Tumenggung Gubah Baleman.

Ia tercenung sesaat ketika melihat keadaan panglima pasukan khusus yang terlihat sayu dan sorot mata lelah.

“Bagaimana keadaanmu, Pamekas?” bertanya Gubah Baleman.

“Kami semua dalam keadaan baik, Ki Tumenggung.”

“Apakah Toh Kuning memberi perintah pada kalian untuk menemuiku di sini?”

Pamekas tidak menjawabnya. Ia melangkah maju kemudian mengulurkan bungkusan kain pada Gubah Baleman.

Dahi Gubah Baleman tampak berkerut tatkala menerima bungkusan itu. Ia cukup lama memandangi bungkusan itu lalu dibukanya bungkusan kain itu perlahan-lahan. Tiba-tiba wajahnya tampak cerah dan sorot matanya bercahaya. Ia mengangkat wajahnya dan menyapu setiap orang yang berada dalam tendanya dengan pandangan mata bahagia. “Kain bergambar matahari terbit,” berkata Gubah Baleman yang telah berdiri tegak. Ia mengangkat kain itu tinggi-tinggi lalu berkata lantang, ”Anak itu telah bekerja dengan tuntas.” Pamekas kemudian kebingungan saat Gubah Baleman memeluknya erat.

“Kembalilah pada pemimpinmu. Katakan padanya bahwa keputusan yang dibuatnya sebenarnya salah, tetapi ia berada di jalan yang benar.”

Pamekas mengangguk lalu meminta diri untuk segera pergi ke tempat yang telah ditentukan oleh Toh Kuning. Setelah menempuh lima hari perjalanan, Pamekas akhirnya tiba di tempat terpencil yang telah didiami oleh Toh Kuning bersama keluarga raja. Untuk beberapa lama ia mengambil masa istirahat setelah melaporkan seluruh keadaan di medan perang, lalu Toh Kuning menghampirinya dan bertanya, ”Bagaimana kau dapat meyakinkan seluruh kawan-kawanmu ketika kita masih berada di bangsal?”

Pamekas memandangnya lalu tersenyum sambil menjawab,”Itu adalah rasa cinta yang dimiliki oleh pasukan khusus, Ki Lurah.”

Kemudian mereka menatap puncak Kelud yang menjulang tinggi menggapai angkasa. Mereka berdua mengetahui bahwa kehidupan tidak selalu terlihat sama persis dari permukaan. (Tamat)

 

 

 

 

baca juga

Toh Kuning Benteng Terakhir Kertajaya – Tanah Larangan (7-habis)

Agus Supriyadi

Toh Kuning Benteng Terakhir Kertajaya – Tanah Larangan (6)

Agus Supriyadi

Toh Kuning Benteng Terakhir Kertajaya – Tanah Larangan (5)

Agus Supriyadi